Video pemukulan siswi disoroti

Video pemukulan siswi disoroti

Video pemukulan terhadap seorang anak yang dilakukan rekan-rekan sekolah nya menjadi pembicaraan di media sosial dalam satu pekan terakhir ini. Video yang direkam di salah satu ruang di SD di Bukit Tinggi Sumatera Barat ini, mengundang perhatian Komnas Perlindungan Anak.


Ketua umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan pemukulan yang dilakukan anak-anak sekolah di Bukit Tinggi ini bisa jadi meniru tayangan kekerasan, dan bentuk pembiaran yang dilakukan sekolah.

“Bisa bayangkan di dalam sekolah habis belajar, dan cukup lama aksi itu dan berteriak-teriak, mengapa guru tidak ada, wali kelas tidak ada, penjaga sekolah tidak ada, itu kategori manajemen yang buruk makanya sampai terjadi kekerasan itu, siapapun yang membiarkan dapat dipidana,” jelas Arist seperti dilansir BBC (13/10).

Komnas Perlindungan Anak menilai kekerasan pada anak ini juga terjadi karena berbagai faktor antara lain kurangnya komunikasi dengan orangtua dan gagalnya pendidikan di sekolah yang tidak mengajarkan budi pekerti dan nilai-nilai kemanusiaan pada anak.


Pendidikan karakter

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud membantah jika sistem pendidikan yang disalahkan dalam kasus kekerasan yang dilakukan anak-anak, seperti dijelaskan oleh juru bicara Ibnu Hamad.
 “Kalau kita bicara sistem pendidikan secara keseluruhan berarti peserta didik kita dari Sabang sampai Merauke itu keras semua, itu kasus yang ada di Bukit Tinggi, SMA 70 dan juga di Bukit Tinggi itu adalah kasus yang kita tangani dan menjadi pembelajaran kita,” jelas Ibnu seperti dilansir BBC (13/10).
Ibnu mengatakan pendidikan karakter telah dicantumkan dalam kurikulum 2013, agar siswa lebih bersikap toleran.
Dalam kasus pemukulan siswi di Bukit Tinggi, Ibnu mengatakan walikota Bukit Tinggi telah memanggil kepala sekolah SD berkaitan dengan kasus pemukulan siswi SD.


Komnas PA menyebutkan data kejahatan yang melibatkan pelaku usia muda meningkat 12% dibandingkan tahun 2013 lalu. Baru-baru ini, dua siswa SMA 3 Jakarta, divonis 1 tahun 5 bulan penjara karena diduga menganiaya juniornya sampai tewas. 
Sumber : BBC